Jannah Theme License is not validated, Go to the theme options page to validate the license, You need a single license for each domain name.
Internasional

Kecaman Korea Utara: Kim Jong Un Sebut Serangan AS ke Venezuela ‘Brutal’

KALTIMVOICE.COM – Pyongyang mengeluarkan kecaman keras. Pemerintahan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong Un menuding serangan brutal AS ke Venezuela. Insiden itu dilaporkan menewaskan setidaknya 80 orang. Peristiwa tragis ini terjadi pada Sabtu (3/1). Korea Utara mengecam keras tindakan tersebut. Ini adalah indikasi jelas sikap anti-imperialis mereka. Kecaman Korea Utara terhadap AS menyoroti ketegangan global yang terus membara.

Pernyataan Pyongyang menyebut serangan itu “brutal”. Kata “brutal” menegaskan intensitas kemarahan Korea Utara. Insiden ini terjadi di tengah ketegangan global. Banyak negara mengamati dinamika kekuasaan dunia. Kecaman ini bukan hal baru. Korea Utara memang dikenal vokal terhadap kebijakan luar negeri AS. Rezim Kim Jong Un secara konsisten menentang apa yang disebutnya intervensi militer AS. Ini termasuk di berbagai belahan dunia.

Konteks Geopolitik Kecaman Korea Utara terhadap AS

Kecaman Korea Utara terhadap AS harus dilihat dalam konteks historis. Hubungan Washington dan Pyongyang selalu tegang. Sejak Perang Korea, kedua negara berada dalam kondisi konfrontasi. Korea Utara kerap menuduh AS sebagai hegemoni global. Selain itu, Pyongyang memandang AS sebagai ancaman utama kedaulatannya.

Oleh karena itu, setiap tindakan AS di kancah internasional sering mendapat reaksi keras. Khususnya jika tindakan itu menyangkut negara-negara yang dianggap “anti-imperialis”. Venezuela adalah salah satu negara tersebut. Pemerintahan Maduro juga sering berkonflik dengan Washington. Ini menciptakan aliansi ideologis yang tidak terucapkan. Sebuah kesamaan pandangan dalam menentang dominasi AS.

Pemerintah Korea Utara menggunakan insiden ini. Mereka menggunakannya untuk memperkuat narasi domestiknya. Narasi ini tentang perlunya pertahanan diri. Mereka juga menekankan perlawanan terhadap tekanan eksternal. Dengan demikian, kecaman ini tidak hanya ditujukan ke luar. Namun, juga berfungsi sebagai pesan internal. Pesan ini untuk rakyat Korea Utara. Pesan ini menunjukkan keteguhan pemimpin mereka. Kim Jong Un sebagai pemimpin menunjukkan keteguhan melawan “musuh”.

Solidaritas Anti-Imperialis: Mengapa Venezuela?

Venezuela di bawah pemerintahan Nicolas Maduro sering menjadi sasaran sanksi AS. Negara ini juga menghadapi tekanan politik. Tekanan itu dari Amerika Serikat dan sekutunya. Oleh karena itu, kecaman dari Korea Utara adalah bentuk solidaritas yang jelas. Solidaritas ini mencerminkan ideologi anti-imperialis yang sama.

Kedua negara ini kerap kali mengkritik keras intervensi asing. Mereka menolak campur tangan dalam urusan internal negara berdaulat. Mereka berpendapat bahwa setiap negara berhak menentukan nasibnya sendiri. Terlebih lagi, Washington telah lama berusaha menggoyahkan pemerintahan Maduro. Ini menambah alasan bagi Pyongyang untuk menyuarakan kecaman.

Sejarah hubungan antara Korea Utara dan Venezuela juga patut dicermati. Kedua negara ini telah menjalin relasi sejak era Hugo Chavez. Mereka berbagi visi tentang “dunia multipolar”. Visi ini menentang dominasi satu kekuatan hegemonik. Oleh karena itu, pembelaan terhadap Venezuela bukan hal baru. Ini adalah bagian dari strategi geopolitik Korea Utara. Strategi ini untuk membangun koalisi global. Koalisi ini terdiri dari negara-negara yang menentang kebijakan AS.

Ini juga menunjukkan bahwa Korea Utara tidak terisolasi sepenuhnya. Meskipun menghadapi sanksi berat, Pyongyang tetap aktif. Mereka terlibat dalam diplomasi ideologis. Bahkan, mereka mencari dukungan dari negara-negara yang senada. Ini menegaskan kembali posisi Korea Utara di panggung dunia.

  • Penolakan terhadap intervensi asing dan campur tangan dalam urusan internal.
  • Pandangan bersama tentang perlunya dunia multipolar, bukan unipolar.
  • Upaya membangun koalisi negara-negara yang menentang hegemoni AS.

Implikasi Regional dan Global dari Kecaman Korea Utara

Kecaman Korea Utara terhadap AS berpotensi memicu reaksi beragam. Di satu sisi, pernyataan ini mungkin hanya dipandang sebagai retorika biasa. Terutama mengingat sejarah permusuhan kedua negara. Namun, di sisi lain, ini menambah lapisan kompleksitas. Ini mempersulit upaya denuklirisasi Semenanjung Korea. AS selalu menekankan pentingnya stabilitas regional. Pernyataan Korea Utara bisa dianggap sebagai upaya provokasi.

Dampak globalnya mungkin tidak langsung terasa. Akan tetapi, ini memperkuat narasi bahwa AS adalah “agresor”. Narasi ini dipegang oleh beberapa negara dan kelompok. Kecaman tersebut juga menjadi pengingat. Pengingat bahwa ada garis perpecahan ideologis yang dalam. Garis ini terus memengaruhi hubungan internasional. Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi. Namun, pernyataan ini pasti masuk dalam radar kebijakan luar negeri mereka. Para analis internasional mencermati setiap gerakan Pyongyang.

Reuters melaporkan bahwa Korea Utara sering menggunakan kesempatan. Mereka menggunakan kesempatan konflik di tempat lain. Ini untuk mengalihkan perhatian dari masalah domestik. Atau untuk menegaskan kembali posisinya di mata dunia. Langkah ini juga dapat dilihat sebagai strategi. Strategi untuk menguji reaksi komunitas internasional. Terutama di tengah ketidakpastian politik global saat ini.

Berita Internasional seringkali diwarnai oleh pernyataan-pernyataan serupa. Ini menyoroti bahwa isu geopolitik tidak pernah benar-benar terpisah. Setiap peristiwa memiliki resonansi di seluruh dunia.

Related Articles

Back to top button